Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 20 Juli 2012

Kasih Sayang Ayah yang Tak Terbatas [motivasi]

Jumat, 20 Juli 2012
- Reviewer: OKE | ItemReviewed: Kasih Sayang Ayah yang Tak Terbatas [motivasi] | Description: Kasih Sayang Ayah yang Tak Terbatas [motivasi] Rating: 4.5


DuniaQ Duniamu





Aku wanita berusia 23 tahun. Kurang lebih delapan bulan lalu aku baru
saja lulus dari perguruan tinggi. Menjadi seorang lulusan bertitel sarjana
memang bagi banyak orang terasa sangat berat, terlebih jika setelah lulus tak
langsung mendapatkan pekerjaan layak. Benar, tradisi di Indonesia memang
seringkali mempertontonkan bahkan mencontohkan bahwa setelah lulus agar cepat
mendapatkan pekerjaan. Dan, itu juga terjadi padaku.





Banyak lamaran yang ku-apply melalui situs pencari kerja online. Namun,
hampir satu bulan aku menganggur, tak satupun perusahaan mau memanggilku barang
hanya interview. Meski gelisah, kusabar-sabarkan perasaanku mendapati tuntutan
agar segera mendapatkan pekerjaan. Hingga satu waktu tiba, sebuah panggilan pekerjaan
kudapatkan dan aku dinyatakan lolos.





Senang? tentu saja aku senang bukan main. Terlebih setelah menganggur
sebulan lamanya akhirnya ada perusahaan yang mau memberiku kesempatan bekerja.
Hanya saja, perusahaan tersebut mengharuskan aku untuk pindah ke luar kota.
Kuutarakan maksudku pada ayah dan ibuku, kuberikan penjelasan mengenai apa saja
yang didapat jika aku benar menerima tawaran kerja itu.





Diam. Ya, ayahku hanya diam mendengarkan penuturanku. Beliau menimbang
banyak hal yang patut diperhitungkan jika aku benar bekerja di luar kota. Sementara
ibuku? beliau juga terdiam, tak menanggapi. Sebelumnya, aku sempat bertengkar
kecil dengan ibuku karena beliau sebenarnya tidak setuju terhadap rencanaku
untuk pindah ke luar kota, tapi aku memaksa. 
Alasanku, aku mengejar cita-cita. Berbeda dengan ibu, ayahku memang
cenderung pendiam. Beliau banyak memikirkan positif dan negatif segala sesuatu
hal, salah satunya tentang rencana kepindahanku.





Jika selama ini aku seringkali berbagi pada ibuku tentang segala hal,
kali ini beda. Aku hanya berdiskusi singkat dengan ayah dan akhirnya memutuskan
untuk berangkat pergi ke luar kota. Sekilas, memang tidak ada yang spesial di
sini, tapi tahukah kalian efek terbesar dalam hidupku setelah keputusanku untuk
pindah kerja di luar kota?





Aku yang jarang sekali ngobrol dengan ayah, kini sering aku bercakap
bahkan hal-hal simpel sekalipun, setiap aku pulang. Aku bahkan smsan dan
memberi kabar tentang pekerjaan dan bercerita tentang kondisi kantor baruku.
Semuanya, kuceritakan pada ayah. Ya, ada hikmahnya aku pindah ke luar kota.
Satu hal yang aku tahu mengenai kepindahanku ini, ternyata ayah sayang
denganku. Bagaimana aku tahu?





Kalian pernah merasakan bagaimana rasanya dihubungi oleh ayah di saat
jam sibuk kantor? Sedangkan selama ini hubungan kalian tidak begitu dekat. Kalian
pernah merasakan bagaimana rasanya ditanya sedang apa, bagaimana kondisi
kantor, bagaimana dengan teman, dan dinasehati saat kalian tengah drop dengan
tekanan di kantor baru? Sedangkan selama ini kalian hanya berbincang seperlunya
dengan ayah. Itu tanda sayang. Ya, aku percaya itu adalah tanda sayang seorang
ayah pada putrinya.





**





Di puluhan kilometer jarakku dengan rumah, aku berpikir mengenai alasan
ayah mengapa sedemikian perhatiannya denganku saat aku jauh. Akhirnya,
kuputuskan satu alasan, kuanalogikan pada satu hal yakni kupu-kupu. Analogi itu
merujuk padaku.





Jika selama ini induk kupu-kupu selalu menjaga anak-anaknya dari telur,
ulat, kepompong hingga kupu-kupu, lalu ketika anaknya besar dan menjadi
kupu-kupu dewasa yang cantik, anaknya meninggalkannya. Kau pernah tahu
bagaimana rasanya kehilangan terlebih lagi kehilangan sesuatu atau seseorang
yang kau sayangi? Ya, begitulah perasaan seorang ayah. Ia rapuh sebenarnya,
meski tampak kuat. Ia tak ingin kehilangan seorang yang amat disayangi, dijaganya
dari kecil, namun ketika dewasa meninggalkannya. Gadis kecilnya kini telah
menjelma menjadi kupu-kupu dewasa nan cantik, lalu terbang tinggi dan jauh.





Masih berpikir tentang ayah, aku mendapatkan satu kesimpulan lain
tentangnya. Tentang mengapa dirinya selalu tampak galak dan jahat di depan
anak-anaknya. Satu hal yang kudapatkan bahwa ayah sebenarnya tak ingin anaknya
cedera. Tak ingin anaknya lemah, hingga tak sanggup membuat anaknya kembali
bangkit. Ia sengaja selalu tampak galak, jahat, tetapi tegas, karena ia sayang
dan tak ingin anaknya cedera. Bukan jahat, kalian hanya salah mengira. Ayah
yang sebenarnya adalah ia yang selalu menjaga buah hatinya bahkan hingga sering
melupakan kebutuhannya sendiri.





Jika kalian tak percaya dengan seberapa besar kasih sayang ayah terhadap
kalian, coba tengok album foto keluarga dan cari dimana ayah kalian berada.
Benar, beliau selalu ada di belakang kamera, memotret setiap detail tingkah
kita dan anggota keluarga yang lain. Ayah, bahkan rela tak ikut berpose demi
melihat senyum kita di depan kamera.




0 komentar:

Posting Komentar

 

ID Blogger

Blogger