Umumnya orang bercinta agar dapat mencapai orgasme, sebab ketika
orgasme, otak melepaskan sejumlah besar hormon yang menimbulkan sensasi
menyenangkan.
Namun, ada juga pasangan yang menjalani hubungan seks tanpa orgasme
dengan sengaja melalui teknik Karezza. Konon, metode ini dapat menambah
keintiman.
Banyak pasangan menganggap seks sebagai penyelamat pernikahan,
obat kecanduan pornografi dan bahkan mengobati disfungsi seksual.
Hingga pada tahun 1896, Dr Alice Bunker Stockham, seorang dokter
kandungan di Chicago menciptakan teknik karezza.
Stockham menciptakan teknik agar laki-laki menahan orgasme, namun dia
juga mendorong wanita melakukan hal yang sama dengan alasan kesetaraan.
Karezza, berasal dari istilah Italia 'Carezza' yang berarti belaian.
Hubungan seks Karezza adalah jenis hubungan yang tidak mencari orgasme dan
menekankan pada belaian kasih sayang antar pasangan.
Teknik seks non-orgasmik ini mulai dilihat sebagai alternatif
alami untuk mengganti viagra, mengobati disfungsi seksual serta dorongan seks
wanita yang rendah.
Deb Feintech, konselor pernikahan dari Portland, Maine, mengaku bahwa
dia sering menggunakan Karezza sebagai cara untuk memulihkan hubungan kliennya
yang rusak.
"Kebanyakan yang paling tertarik adalah laki-laki. Metode
ini sangat radikal, tetapi mereka menemukan keintiman emosional yang jauh
melampaui sensasi dan perasaan yang pernah ada dalam pernikahannya," kata
Feintech seperti dilansir ABC News.
Feintech menambahkan, praktik Karezza tidak hanya membantu pasangan tua
yang sedang bosan dengan pernikahannya, tapi juga membantu pasangan muda yang
baru saja mengikat janji pernikahan. Pada pasangan muda, biasanya metode ini
ditawarkan untuk dicoba selama 1 bulan atau lebih.
Menurut Marnia Robinson, penulis buku 'Cupid's Poisoned Arrow', kekuatan
Karezza ada hubungannya dengan peningkatan aktifitas saraf dan hormon ketika
orgasme yang membuat orang mabuk biokimia.
Namun rangsangan berlebihan dapat menurunkan sensitifitas otak
terhadap seks atau membuat orang justru memiliki dorongan seks yang berlebihan.
Para ilmuwan meneliti hubungan antara perilaku seksual, neurokimia dan
keharmonisan dalam hubungan. Hasilnya menemukan bahwa aktivitas di 80 daerah
otak yang berbeda mencapai tingkat maksimum selama orgasme.
Agar aktivitas otak ini dapat kembali normal, dibutuhkan waktu 15 hari.
Pada masa ini dapat menyebabkan perubahan mood yang drastis.
"Dalam siklus gairah orgasme, kadar hormon dopamin mengalami
kenaikan ketika berhubungan seks dan kemudian menurun drastis setelah orgasme.
Akibatnya, muncullah sensasi seperti mabuk," kata Robinson.
Penekanan Karezza adalah pada kasih sayang dan praktiknya mudah
seperti seks biasa. Jika ketika bercinta merasakan keinginan untuk orgasme,
maka pasangan melakukan relaksasi lebih dalam dan bernapas lebih lama.
Pernapasan yang menenangkan ini akan melawan ketegangan otot dan dorongan napas
yang memicu orgasme.
Meskipun demikian, Karezza jangan dipraktikkan terlalu lama. Metode
ini kebanyakan digunakan untuk meningkatkan keintiman pasangan dan membenahi
hubungan pernikahan yang sedikit terganggu.
"Ini seperti mendaki Gunung Everest setinggi 10.000 kaki tapi tak
pernah meraih puncak. Tidak ada yang ingin terus-terusan seperti itu,"
kata Darryl Keil (56 tahun) yang telah mempraktikkan Karezza selama 8
tahun.

0 komentar:
Posting Komentar